Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 15 November 2011

Sadis! 750 Orangutan Dibunuh dalam Setahun

15/11/2011 13:24

  
Warga desa yang tinggal di pedalaman Kalimantan telah membunuh setidaknya 750 orangutan dalam periode setahun. Menurut hasil survei jurnal PloSOne, Senin (14/11), pembunuhan itu kebanyakan disebabkan oleh usaha para petani yang mencegah orangutan tidak menyerang dan mengambil hasil tanaman.

Penulis survei, Erik Meijaard, juga mengkhawatirkan hal tersebut bakal menjadi ancaman yang lebih serius terhadap keberadaan populasi kera merah. Indonesia merupakan rumah bagi 90 persen dari total populasi orangutan yang tinggal di hutan. Selain itu, Indonesia juga diselimuti hutan hujan sejak 50 tahun lalu, tetapi setengah pohon-pohon di hutan itu telah ditebang sejak dunia membutuhkan pasokan lebih banyak kayu, kertas, dan minyak kelapa sawit.

Sebagai hasilnya, sekitar 50.000 sampai 60.000 kera yang tersisa itu hidup tersebar, terdegradasi hutan, bahkan berujung kematian setelah terlibat konflik dengan manusia. "Survei kami ini mengindikasikan bahwa pembunuhan orangutan terjadi semakin serius di dalam kawasan hutan, di mana mereka diburu seperti spesies lainnya," kata Meijaard. "Ini tampaknya menjadi fakta yang tidak mengenakan, tetapi ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi," tambahnya.

Nature Conservancy dan sekitar 19 organisasi swasta lainnya, termasuk WWF serta Persatuan Ahli dan Pengamat Primata Indonesia, mencetuskan survei ini agar mendapatkan pengertian yang lebih baik dalam pembunuhan orangutan. Mereka mewancarai sebanyak 6.983 orang di 687 desa di tiga provinsi Kalimantan, yang juga berbatasan dengan Malaysia dan Brunei, pada April 2008 sampai September 2009.

Hasil dari wawancara itu diekstrapolasi ke populasi dengan sasaran laki-laki 15 tahun dan lebih tua, dikarenakan hanya 11 wanita yang dilaporkan telah membunuh orangutan. Hal itu juga menunjukkan bahwa setidaknya 750 kera telah tewas selama tahun sebelumnya.

Neil Makinuddin, manajer program dari Nature Conservancy, mengatakan, mereka terkejut dari hasil responden yang dilaporkan telah membunuh orangutan dan setengah dari hasil itu dilaporkan memakannya.

Hasil penelitian itu juga mengatakan, beberapa dikonsumsi setelah dibunuh karena orangutan tersebut memasuki kawasan ladang atau dikarenakan warga takut dengan binatang itu. Beberapa lainnya langsung diburu untuk daging mereka. Setiap warga yang membunuh juga mengaku telah membunuh orangutan setidaknya satu atau dua ekor selama hidupnya.

"Orangutan itu bukan bagian dari rantai makanan harian orang," tegas Meijaard, selaku penasehat senior di People and Nature Consulting International. Juru bicara Kementrian Kehutanan Indonesia, Ahmad Fauzi Masyhud, juga mengaku belum menerima laporan tersebut dan menyebutnya sebagai kabar "bombastis".

"Kami harus mengecek ulang apakah berita itu benar atau salah. Tetapi, saya masih ragu dengan itu," kata Masyhud.

Namun, Meijaard tetap bersikeras dengan menyatakan bahwa sekarang saatnya untuk menghadapi fakta-fakta tersebut. Ia juga mengaku telah melihat banyak tengkorak orangutan, kulit dan tangannya yang dipotong, serta mendengan banyak orang yang mengaku pernah membunuh atau memakan orangutan
    
Lembaga Centre for Orangutan Protection (COP) mengecam kasus penganiayaan dan pembantaian sejumlah orangutan di kawasan perkebunan perusahaan kelapa sawit di Kalimantan Timur. COP meminta aparat terkait, agar segera bertindak.

"Seekor orangutan jantan dewasa ditemukan dalam kondisi terluka pada bagian wajah dan tubuhnya di jalan utama dekat perkebunan kelapa sawit milik PT Khaleda Agroprima Malindo, Kalimantan Timur, 3 November lalu," kata aktivis COP Hendri Baktiantoro. "Luka pada orangutan itu diduga akibat terkena benda tumpul."

Hendri mengatakan, kasus penganiayaan itu diduga orangutan kerap memasuki kawasan perkebunan sawit milik perusahaan setempat. Pelakunya diduga masyarakat setempat atas perintah perusahaan karena khawatirnya perkebunannya rusak.

Menurut Hendri, orangutan terpaksa masuk ke perkebunan karena habitatnya hilang, akibat adanya deforestasi pembukaan lahan menjadi perkebunan sawit. Ia pun meminta aparat segera mengusut tuntas kasus ini.

"Ini adalah kejahatan yang sangat serius karena bertentangan dengan Undang-Undang Republik Indonesia No 5 / 1190 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hidup dan Ekosistemnya. BKSDA harus bertindak proaktif. Penegakan hukum dapat dijalankan tanpa menunggu pengaduan seorang," ujarnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar