Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 04 November 2011

Satu Demonstran Aksi Jahit Mulut Dirawat

Satu Demonstran Aksi Jahit Mulut Dirawat 4 November 2011 - 09.36 WIB > Dibaca 54 kali PEKANBARU (RP) - Sulatra (37) warga Desa Pelantai, satu dari lima demonstran warga Pulau Padang yang melakukan aksi jahit mulut untuk menyampaikan tuntutan di depan Kantor DPRD Provinsi Riau, akhirnya di rawat di Rumah Sakit Petala Bumi, Pekanbaru, Kamis (3/11). Berdasarkan keterangan yang di rangkum Riau Pos dari koordinator aksi, Sutarno (38) menyebutkan, Sulatra dilarikan ke RS sekitar pukul 09.40 WIB menggunakan ambulan. Kondisinya dinilai ngedrop dan perlu mendapatkan perawatan khusus. Meski demikian, Sulatra tidak mau untuk melepaskan jahitan di mulutnya sebelum mendapatkan rekomendasi dari DPRD Provinsi Riau. ‘’Ya, Sulatra ngedrop dan dilarikan ke RS Petala Bumi. Sebelum ada rekomendasi dari DPRD dia tidak mau melepaskan jahitan begitu juga dengan kami semua yang masih menunggu rekomendasi itu,’’ sebut Sutarno. Sementara itu, jika Sulatra mendapatkan perawatan medis di rumah sakit, empat orang lagi M Ridwan (28), Soib (55), Sani (45) dan Sapridin (36) masih terlihat sehat. Meski kondisi tubuh sudah mulai terlihat lemah, namun mereka pun tidak mau melepaskan jahitan mulutnya sampai tuntutan terpenuhi. Tidak hanya itu, mulai hari ketiga ini, warga Pulau Padang, tidak hanya melakukan aksi jahit, namun 19 orang dari mereka juga melakukan aksi mogok makan. Dehidrasi Sementara itu, dr Ine yang merawat Sulatra mengatakan, pasien mempunyai gangguan pada lambungnya, yaitu penyakit mag. Selain itu, Sulatra juga didiagnosa menderita kekurangan cairan atau dehidrasi. ‘’Pasien mengalami gangguan pada lambungnya dan diduga mag, selain itu juga kekurangan cairan tubuh,’’ ujar Ine. Awalnya Sulatra memang sudah menolak untuk dirawat dan diberikan tindakan medis, namun setelah dibujuk oleh teman-temannya, dokter diperbolehkan untuk memasang infus. Pukul 16.00 WIB, Sulatra meminta untuk kembali ke posko namun karena pihak rumah sakit Petala Bumi tidak membenarkan infus dibawa, akhirnya infus di tubuh Sulatra dilepaskan. Sulatra juga menanda tangani surat pernyataan tidak bersedia dirawat di Rumah Sakit Petala Bumi tersebut sehingga ahirnya di antarkan oleh ambulan ke posko di depan DPRD Provinsi Riau

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar